Membedah Fiqh Musyarakah

Oleh: Habibullah Lc

Ketika saya menerima tawaran ini -membedah fiqh musyarakah-, saya setuju karena saya juga ingin mengkritik teman-teman dalam dakwah supaya lebih terbuka. Bukan karena saya yang paling mampu, karena yang kita kelola ini adalah organisasi publik, bahwa tsiqoh yang kita harapkan dari konstituen itu berangkat dari kompetensi kita atau kredibilitas kita, keteladanan kita, serta transparansi kita.

Tentu kita semua sadar bahwa jamaah ini merupakan organisasi publik. Maka kita tidak memakai pola kepemimpinan ala Nabi Khidir, dengan ungkapannya: “Pokoknya kamu bekerja. Kalau sering tanya, jangan ikuti saya”. Nabi Khidir itu bukan tokoh nasional, bahkan apakah Nabi Khidir itu manusia atau bukan, tidak ada yang tahu, karena misinya sangat ghaib. Maka pengikutnya pun satu per satu pergi meninggalkannya, tidak betah karena dilarang bertanya, kecuali Nabi Musa as. yang pada akhirnya juga tidak tahan menghadapinya. Baca selebihnya »

Adakah Berpolitik dan Berpartai Dicontohkan Nabi dan Sahabat?

Ustadz, ana ingin bertanya.

Kalau dilihat dari realita yang sekarang, banyak sekali partai yang mengatas namakan partai Islam (PKB, PKS, PAN dan lain-lain) sehingga sebagai seorang muslim ada yang mewajibkan harus memilih salah satu dari beberapa partai tersebut atau bahkan sama sekali tidak memilih.

Yang menjadi pertanyaan, bagaimana sesungguhnya atau sebenarnya dilihat dari sudut pandang Al-Qur’an dan As-Sunnah dalam hal berpolitik/berpartai? Ada nggak contohnya dari Nabi dan para sahabat? Mohon penjelasan, jazakumulloh khoiron katsiron.

Wassalam,

Abu Hurairah Ali Asmara
abuhurairah

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Sesungguhnya Nabi Muhammad SAW dan para shahabatnya seumur-umur belum pernah ikut pemilu, apalagi membangun dan mengurusi partai politik. Realita seperti ini sudah disepakati oleh semua orang, termasuk para ahli sejarah, ulama dan juga semua umat Islam.

Baca selebihnya »