Mengenang Generasi Padang Badar

Oleh  Ridwan Hidayat

 

Saat itu musim semi. Sehamparan gurun Jazirah sedang mengalami rontoknya dedaunan dari ranting-ranting pohon.  Dan sesekali air turun dari langit untuk sekedar membasahi oase-oase gurun. Mekkah dengan seluruh masyarakatnya berinvestasi kepada kafilah dagang Abu Sofyan yang berangkat menuju Negeri Syam. Sebuah investasi besar-besaran dalam perdagangan di Makkah waktu itu. Ketika keberangkatan tersebut terdengar oleh kaum Muslimin di Madinah, dan Rasulullah pun memerintahkan untuk mencegat kafilah dagang itu untuk membuktikan kepada kaum kafir Quraisy yang selalu memerangi Islam, menghalangi jalan Allah, serta melipatgandakan gangguannya terhadap umat Islam bahwa umat Islam tidak bisa dilecehkan lagi. Dan mencoba merebut harta kafilah dagang tersebut sebagai ganti rugi atas dirampasnya harta-harta kaum Muslimin ketika masih di Mekkah.

Dalam usaha pencegatan saat sekembalinya kafilah dagang Abu Sofya dari Syam kembali ke Makkah, Rasul berangkat dengan membawa 314 pasukan Muslimin menuju Badar dengan harapan mereka dapat bertemu dengan kafilah dagang Abu Sofyan. Namun usaha pencegatan kaum Muslimin telah diketahui oleh Abu Sofyan. Abu Sofyan kemudian  mengutus kurir ke Mekkah untuk memberikan informasi usaha pencegatan ini dan meminta bantuan berupa pasukan Quraisy untuk melawan pasukan Muslimin.

Serentak seluruh masyarakat Quraisy Mekkah dengan seluruh pasukan lengkap peralatan perang menanggapi upaya pencegatan kaum Muslimin. Mereka semua takut harta-harta yang dibawa kafilah dagangnya direbut kaum Muslimin. Hampir seluruh pemuka-pemuka Mekkah ikut dalam barisan yang di pimpin oleh Abu Jahl dengan jumlah pasukan sekitar 1000 orang.  Walaupun terdengar kabar bahwa Abu Sofyan telah selamat dan terhindar dari usaha pencegatan itu, namun Abu Jahl, sang komandan perang tetap bersikeras untuk menyerang kaum Muslimin. Sikap keras Abu Jahl iniliah yang di takuti oleh masyarakat Quraisy untuk tetap mentaati perintah Abu Jahl meneruskan rencana penyerangan ini demi memuaskan ambisi menaklukan pasukan muslimin meskipun banyak diantara mereka sudah tidak menginginkan perang.

 

Ketaatan dan Loyalitas

Dalam perjalanan menuju Badar, terdengar berita oleh pasukan Muslimin bahwa telah berangkat pasukan dari Makkah untuk menyerang mereka. Allah berkehendak lain, kaum Muslimin harus berhadapan dengan sesuatu yang tidak diharapkan. Allah telah menggantikan kafilah dagang yang berpasukan kecil dengan pasukan lebih besar dari Makkah. Suasana menjadi genting, dan hampir beberapa kaum Muslimin menjadi kecewa atas keadaan ini. Namun apa boleh dikata, keputusan pemimpinlah yang menentukan. Perintah Rasulullah untuk maju terus menghadapi pasukan Quraisy menjadi keputusan sulit. Keputusan yang menentukan nasib kaum muslimin, apakah kembali ke Madinah dengan resiko musuh Islam akan selalu memerangi kaum Muslimin atau tetap bertahan menghadapi musuh dengan pasukan Muslim yang sebenarnya belum siap berperang dan harus berhadapan dengan tiga kali lebih besar pasukan musuh.

Di tengah kegentingan dan keraguan-raguan ini, Rasulullah selalu menanyakan kesiapan para sahabatnya dan di antara mereka selalu menyatakan siap. Tetapi Rasulullah terus bertanya seolah-olah ragu hingga terucap dari kalangan Anshar yang sebenarnya kaum Anshar tidak berhak atas perang ini, karena ini adalah perang kaum Quraisy Mekkah dengan Quraisy Muslim yang bersama Rasul di Madinah (Muhajirin).

Dan Sa’ad bin Mu’adh dari kalangan Anshar berkata “Kami telah percaya kepada Rasul dan membenarkan. Kami pun telah menyaksikan bahwa apa yang kau bawa itu adalah benar. Kami telah memberikan janji kami dan jaminan kami, bahwa kami akan tetap setia. Laksanakanlah kehendakmu, kami disampingmu. Demi yang telah mengutus kamu, sekirannya kau bentangkan lautan di hadapan kami, lalu kau terjun menyeberanginya, kami pun akan terjun bersamamu, dan tak seorang pun dari kami akan tinggal di belakang.” Dari ucapan ini Rasul merasa puas, karena perang ini memang bukan perang suku namun perang atas nama Islam. Yaitu jihad melawan ketertindasan kaum Muslimin di tanah Arab.

 Setelah itu, nabi SAW lalu bersabda pada seluruh tentaranya: “Berjalanlah kamu dan bergembiralah karena sesungguhnya Allah telah memberi janji kepadaku salah satu daripada dua golongan.  Demi Allah, sungguh aku seakan-akan sekarang ini melihat tempat kebinasaan kaum Quraisy,

Mendengar perintah Rasulullah yang sedemikian itu, segenap kaum muslimin memulaikan perjalanan dengan tulus ikhlas dan berangkatlah mereka menuju ke tempat yang di tuju oleh Nabi. Mereka selalu ta’at dan patuh kepada perintah Nabi dengan melupakan segala sesuatu yang menjadi kepentingan diri mereka sendiri.

 

Perencanaan dan Strategi

Sumur Badar terletak di lereng yang landai di bagian timur suatu lembah yang bernama “Yalyal”. Bagian barat lembah dipagari oleh sebuah bukit besar bernama “‘Aqanqal”. Ketika pasukan Muslim tiba dari arah timur, Rasulullah pertama-tama memilih menempatkan pasukannya pada sumur pertama yang dicapainya. Tetapi, seorang bernama Hubab bin Mundhir meyakinkan Rasul untuk memindahkan pasukan ke arah barat dan menduduki sumur yang terdekat dengan posisi pasukan Quraisy. Rasul kemudian memerintahkan agar sumur-sumur yang lain ditimbuni, sehingga pasukan Mekkah terpaksa harus berperang melawan pasukan Muslim untuk dapat memperoleh satu-satunya sumber air yang tersisa. 

Setelah melakukan pekerjaan tersebut Sa’ad bin Mu’adh mengusulkan untuk membuat tempat perlindungan bagi Rasul yaitu sebuah gubuk. Berkata Sa’ad al-Anbany: “Ya Rasulullah, bila Allah memenangkan kita, engkau tetap sajalah digubuk itu, tetapi bila kami tewas seluruhnya, engkau hendaklah segera meninggalkan gubuk itu bergabung dengan sahabat-sahabat kita yang masih hidup, yang kecintaan mereka terhadap engkau tidaklah kurang dari kecintaan kami.” Rasulullah amat terharu mendengar ucapan yang demikian itu. Sehingga apabila pasukan Muslim kalah, Rasulullah dapat bergabung dengan pasukan di belakangnya dan kembali ke Madinah dengan harapan selamat dari serangan musuh dan dapat terus mengajarkan Agama Islam. Sebuah pengorbanan dan kesetiaan pasukan Islam terhadap Nabi Muhammad SAW.

 

Keyakinan yang Kuat

Detik-detik menjelang pecahnya perang hampir tiba. Pasukan pimpinan Abu Jahl telah nampak dengan kecongkakkannya. Kesombongan mereka diikuti oleh ketakutan para pasukannya yang mempunyai firasat kematian bila berhadapan dengan pasukan Muhammad. Sebuah pasukan kecil yang hanya berlindung pada pedang mereka sendiri. Tiada Seorang dari mereka akan rela mati terbunuh, sebelum dapat membunuh lawan.

Ketika pasukan telah saling berhadapan, Rasulullah begitu bimbang karena melihat pasukan musuh yang begitu besarnya dan melihat pasukannya yang hanya pasukan kecil dengan senjata seadanya. Dia kemudian pergi ke gubuk bersama Abu Bakar untuk berdoa kepada Allah agar diberi pertolongan. Begitu dalam dan hanyut dalam doa Rasulullah dan dengan begitu serendah-rendahnya Ia meminta pertolongan kepada Allah hingga ia terkantuk. Namun Rasul kembali sadar dan menemui pasukannya dengan penuh rasa gembira karena Allah menjanjikan surga bagi kaum Muslimin yang syahid di medan perang.

Perang tak terhindarkan lagi. Hanya semangat moril dan keyakinan kepada Allah-lah yang mampu memberikan kekuatan. Hingga pasukan kecil ini mampu menghancurkan pasukan congkak itu. Dengan terbunuhnya Abu Jahl, pasukan besar ini kocar kacir dan kemenangan ada dipihak kaum Muslimin. Apalah arti pasukan besar yang berperang demi nafsu dibandingkan dengan kekuatan kecil yang penuh dengan pesona kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya.

Perang Badar ini merupakan moment terpenting dalam menunjukkan eksistensi umat Islam dalam kancah pembentukan peradaban dunia Islam. Mungkin bila umat Islam kalah bisa saja  Islam tidak berkembang saat ini, namun kemenangan ini telah membuktikan bahwa pasukan Rasulullah telah menjadi kekuatan yang amat disegani.

Alumni Padang Badar inilah yang telah menjadi para arsitek peradaban Islam. Merekalah yang akhirnya menancapkan bendera-bendera tauhid di seluruh tanah di dunia. Sebuah generasi terbaik yang belum ada tandingannya hingga saat ini. Kemenangan bukan hanya berharap dari pertolongan Allah saja, tetapi juga dari perencanaan masa depan yang matang dengan penuh keyakinan kepada Allah serta kemampuan startegi yang baik dalam menghadapi realitas kehidupan[]

Tinggalkan Balasan