Oleh : Ridwa Hidayat
Fitnah kepada umat Islam tidak hanya terdengar pada jaman ini saja. Pada jaman Rasulullah SAW pun juga banyak sekali fitnah yang menyerang umat Islam maupun Rasul sendiri. Diantaranya adalah fitnah yang melanda keluarga Rasulullah yaitu fitnah terhadap Aisyah. Berikut kisahnya yang digambarkan dan dirangkum dari hadits ifki (satu istilah yang digunakan untuk kisah fitnah terhadap Ummul Mukminin, Saiditina Aisyah r.a. yang berasal dari hadits Imam Bukhori).
Seperti pada kebiasaan Rasulullah apabila dalam melakukan perjalanan (musafir, beliau selalu membawa salah satu dari isterinya. Kebetulan pada saat perjalanan kali ini, Aisyah –isteri termuda Rasul yang merupakan anak dari sahabat beliau, Abu Bakar- terpilih menemaninya dalam perjalanan ini.
Suatu ketika pada saat perjalanan pulang menuju madinah, rombongan Rasul dan Aisyah serta para musafir lainnya melakukan peristirahatan. Selama peristirahatan, Aisyah keluar dari tempat haudaj (tempat yang biasanya diletakkan perempuan di dalamnya dan ia diikat di atas belakang unta) untuk buang hajat. Setelah selesai, Aisyah kembali ke rombongan tadi, tidak disangka ia kehilangan kalung yang dipakainya, kemudian ia kembali dan mencari. Saat mencari ia melihat bahwa ia telah tertinggal rombongan. Para pasukan musafir tadi mengira kalau Aisyah masih di dalam haudaj. Meskipun begitu, ia terus mencari kalung tersebut. Setelah menemukannya, ia kembali ke tempat peristirahatan dan berharap para pasukan musafir tadi mengetahui bahwa Aisyah tertinggal dan kembali untuk menjemputnya.
Selang beberapa lama, Aisyah tertidur. Kemudian datanglah seorang askar yang berjalan di belakang pasukan tadi. Orang tersebut bernama Safwan bin Muattal. Ia menemukan Aisyah dan mengenalinya. Ia lalu mendekati Aisyah dan membawanya dengan unta yang diduduki Aisyah, sedangkan Safwan berjalan menarik unta hingga sampai dikawasan perhentian.
Setelah tiba di madinah Aisyah terkena demam. Selama menderita sakit, tersebar kabar fitnah tentang perselingkuhan Aisyah dengan Safwan. Kabar ini sampai ke telinga Rasulullah. Sikap Rasulullah pun telah berubah terhadap Aisyah, hanya sekedar menyapa dan menanyakan kabar Aisyah saja saat ia sakit. Hingga Rasulullah pun berencana untuk menceraikan Aisyah.
Aisyah akhirnya mengetahui fitnah ini setelah sembuh dari sakitnya. Ia kemudian meminta kepada Rasulullah untuk kembali kepada orang tuanya dan Rasul pun menyetujui. Setelah itu, Rasulullah mengumpulkan para sahabat untuk meminta pendapat mereka atas masalah ini. Dan mencoba menyelidiki dengan memanggil Abdullah bin Ubai bin Salul yaitu sebagai penyebar fitnah utama dan beberapa lainnya seperti Barirah (khadam Aisyah) untuk menanyai sifat Aisyah. Dari hasil dialog dengan beberapa sahabat, memang tidak ada kekurangan dan kejelekan dalam diri Aisyah maupun Safwan. Namun masih adanya keraguan karena lamanya ayat yang turun kepada Rasulullah tentang kesucian Aisyah.
Kemudian Rasul menemui Aisyah di tempat orang tuanya. Dan Rasulullah memulaikan kata-katanya dengan pujian kepada Allah dan ucapan syahadat, lalu bersabda, Wahai Aisyah, telah sampai kepadaku berita tentangmu begini-begini. Kalaulah kamu memang tidak melakukannya, niscaya Allah akan membebaskan kamu, dan jika kamu telah melakukan dosa, istighfarlah kepada Allah dan bertaubatlah kepadaNya. Sesungguhnya seorang hamba bila dia mengakui dengan dosanya, dan bertaubat memohon keampunan daripada Allah, niscaya Allah akan mengampunkannya.
Kemudian Aisyah menjawab, Sesungguhnya demi Allah, aku memang telah mengetahui bahwa kamu semua telah mendengar cerita ini telah berada di jiwa kamu semua, dan kamu semua mempercayainya. Kalaulah aku berkata yang aku ini tidak bersalah –Dan Allah sahaja yang mengetahui bahwa aku tidak bersalah- kamu semua tidak akan mempercayaiku. Dan jika aku mengakui –sedangkan Allah mengetahui bahwa aku tidak bersalah- tentulah kamu semua mempercayainya. Demi Allah, tidak ada umpama bagiku melainkan seperti perkataan ayah Nabi Yusuf. Sabar adalah lebih baik, dan Allah sahaja tempat aku memohon pertolongan daripada yang mereka katakan.
Setelah itu , dan pada saat dan tempat itu juga turunlah ayat (surat An-Nur:11-12) yang membebaskan Aisyah dari fitnah. Hingga akhirnya terjawab sudah, bahwa Aisyah memang tidak melakukan dosa apa yang telah difitnahkan kepada Aisyah.
Hikmah dari kisah ini adalah kita harus berhati-hati terhadap ucapan. Jangan segera menuduh orang lain apabila kita melihat hal-hal yang terasa buruk di mata kita. Apalagi menyebar luaskan berita negatif (gosip). Carilah terlebih dahulu kebenarannya dan selalulah berprasangka positif, terutama kepada orang-orang yang beriman. Wallahualam Bishawab.
Tulisan ini pernah di tampilkan pada Majalah Sintaksis Edisi Januari 2008
DIarsipkan di bawah: Sirah



